SBY & Mitos Satrio Pinilih

Jakarta – SBY tampil sebagai pemenang. Kemenangan ini sangat berarti. Tidak saja bagi SBY dan tim-nya serta lembaga survei yang diragukan netralitasnya, tetapi juga bagi penulis. Dengan kemenangan ini, maka prediksi berdasar tafsir dari kitab-kitab kuno masih ‘layak pakai’. Tetap bisa dijadikan rujukan ‘mengotak-atik’ siapa tergusur dan siapa yang unggul.

Kalau anda mau mengklik detik.com 7 November 2007, anda akan merasa seakan-akan tulisan itu hasil reportase pilpres yang baru saja berlangsung. Dalam laporan bersambung tiga tulisan itu penulis memprediksi JK tidak akan mendampingi SBY dan kalah bertarung dalam Pilpres.

Dan saat menjelang pilpres, penulis mengisi kolom ini dengan terawang yang gamblang. Dari siapa pemenangnya, bagaimana rakyat yang ‘pinter’ dan ‘minteri’ calon pemimpin ‘yang ambisius’, figur yang diinginkan rakyat. Juga soal sekali putaran atau dua putaran.

Dalam menulis ramalan macam itu, penulis melihat dari tiga soal. Pertama suratan serat kuno yang menyebut tanda munculnya figur yang akan tampil sebagai pemimpin, tanda-tanda alam (utamanya reaksi gunung berapi), dan ketiga simbol Satrio Piningit, Satrio Pinilih, yang juga diasumsikan sebagai Ratu Adil.

Dalam Serat Kanda, Babad Tanah Jawi, serta Jangka Jayabaya disebut, akan terjadi suksesi di Tanah Jawa, jika Gunung Merapi memuntahkan lahar dan disusul meletusnya gunung-gunung yang lain. Uniknya, dalam Pilpres kali ini Merapi adem-ayem, di tengah gejolak Gunung Slamet, Gunung Kelud, dan Gunung Semeru di Jawa.

Tanda alam itu kian dipertegas dengan Yogyakarta kembali dilanda gempa (tengara Sultan Hamengkubuwono X gagal maju capres), Gunung Soputan meletus, Gorontalo diobrak-abrik gempa (Fadel Muhammad dan JK gagal), serta Gunung Merapi di Padang bergolak (Akbar Tandjung batal dampingi SBY).

Tanda-tanda itu semakin benderang ketika yang tampil sebagai kandidat presiden adalah Mega-Prabowo, SBY-Boediono, dan JK-Wiranto. Itu karena dalam ‘disiplin’ Satrio Piningit atau Satrio Pinilih tidak pernah ‘pulung’ itu jatuh dua kali. Artinya, Mbak Mega yang ‘pernah’ menjadi Satrio Pinilih tak bakalan ‘kejatuhan’ lagi.

Bagaimana gambaran negeri ini lima tahun ke depan dan pasca SBY lengser keprabon? Lambat tapi pasti, rasanya negeri ini sudah waktunya memasuki masa keemasan. Zaman Kala Sumbaga yang terbagi dalam tiga periode itu tersurat dalam Jangka Jayabaya sebagai era menuju puncak kebahagiaan.

Lintasan waktu yang masuk paket zaman Kala Sumbaga itu semua bernilai positif, dan berlaku hingga tahun 2078. Dimulai dengan euphoria manusia ingin terkenal, snob, yang menimpa pemimpin maupun yang dipimpin.

Taraf hidup yang membaik membuka era Kala Andana, sebuah masa yang diramaikan orang berderma. Ingin memberi pada yang lain. Masa itu amat mengharukan, karena ‘wong cilik melu gemuyu’ (orang miskin ikut tertawa) bukan lagi slogan.

Setelah itu masa Kala Karena terbuka. Sebuah masa paling indah. Rakyat tidak kesulitan lapangan kerja, sandang, pangan, dan papan tercukupi. Saat itu rakyat memasuki tahap bersuka-cita. Mencari kesenangan hidup.

Zaman Kala Sumbaga ditutup Kala Sriyana. Masa-masa itu diasumsikan kota dan desa tertata. Polusi serta pencemaran teratasi. Rakyat hidup makmur dan sejahtera. Semua hidup enak, dan semua berlomba-lomba berbuat kebajikan.

Adakah benar zaman keemasan itu tak lama lagi bakal datang? Kita berdoa dan ikhtiar bersama, agar masa yang dilukiskan gemah-ripa lohjinawi, tata-tentrem karta raharja itu segera tiba. Amin !

* Djoko Suud Sukahar: pemerhati budaya, tinggal di Jakarta.

(iy/iy)

sumber: detik.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: